Nikotin, Penyebab Masalah Pendengaran

Sebuah perkembangan yang tidak biasa dialami sistem pendengaran pada anak-anak dan masalah pendengaran yang menyertainya bisa menjadi hasil dari adanya interaksi dengan zat nikotin. Berdasarkan penelitian oleh Mouse Model Study yang dipublikasikan pada 12 February di edisi majalah The Journal of Physiology, dalam hal ini, kedua masalah tersebut bisa terjadi sebelum dan setelah kelahiran. Sehingga harus sangat diwaspadai bagi para ibu hamil untuk sebisa mungkin menghindari rokok. Seberapa stress pikiran dan seberapa besar tingkat kecanduannya, sebisa mungkin untuk menghentikan kebiasaan merokok, karena akan berakibat buruk bagi janin.
Pengaruh nikotin selama kehamilan bisa mempengaruhi perkembangan otak dari janin. Ibu yang merokok, menggunakan rokok elektrik, atau rokok terapi pun sangat besar resikonya dalam membuat bayi lahir premature, menurunkan berat badan bayi, dan meningkatkan resiko kematian bayi secara tiba-tiba. Resiko ini akan berhubungan dengan beberapa penelitian tentang masalah pendengaran.


Sebuah penelitian baru menyarankan untuk pertama kalinya bahwa sistem pendengaran- yakni sebuah syaraf pendengaran yang ada di otak dan berfungsi untuk memainkan peran menganalisis suara- mungkin akan berkembang secara tidak normal pada anak saat ibu masih mengalami masa kehamilan karena pengaruh nikotin sebelum melahirkan dan setelah melahirkan. Anak-anak dengan fungsi sistem pendengaran yang lemah akan mengalami kesulitan belajar dan memiliki masalah dalam perkembangan bahasanya. Karena mereka tidak bisa mendengarkan dengan sempurna layaknya anak-anak normal lainnya, sehingga perkembangan kosa katanya pun akan sangat buruk jika dibandingkan dengan perkembangan anak-anak normal lainnya.
Pada penelitian ini, para peneliti menambahkan bahwa minuman yang mengandung nikotin dan dikonsumsi seekor tikus saat hamil menyebabkan kadar nikotin di dalam darahnya menjadi meningkat sehingga hal ini juga akan dialami oleh ibu hamil perokok. Penggunaan tikus sebagai subjek penelitian ini dijadikan acuan untuk membuktikan akibat fatal jika ibu merokok.
Keturunan atau anak di tikus itu pun kemudian dideteksi sudah memiliki kandungan darah dikotin yang kental sejak sebelum dilahirkan. Setelah dilahirkan, anak tikus akan meminum air susu ibunya selama 3 minggu pun sudah bisa dikatakan bahwa si tikus sudah mengidap darah yang mengandung nikotin- bahkan akan terus berlangsung sampai usia masuk sekolah dasar jika itu terjadi pada manusia.
Para peneliti kemudian menganalisis sistem saraf anak tikus itu untuk mengukur keberadaan kandungan nikotinnya. Dan hasilnya akan dibandingkan dengan sebuah grup control dari subjek-subjek penelitian yang lainnya yang tidak terdeteksi memiliki kandungan nikotin.
Syaraf yang bekerja dalam koklea telinga akan menjadi kekurangan efektivitas kinerjanya saat menangkap sinyal suara yang masuk ke dalam telinga. Sehingga secara langsung sinyal akan ditransmisikan dengan tingkat ketelitian yang lebih rendah, namun masih bisa menghasilkan kode suara. Para peneliti menyatakan bahwa hal tersebut akan menjadi salah satu bagian penting yang harus digarisbawahi dalam proses mendengar pada anak yang dilahirkan oleh ibu perokok super aktif.
“Kita tidak tahu bagaimana sistem pendengaran yang diakibatkan oleh kandungan nikotin,” kata Ursula Koch, seorang professor di Freie Universitas Berlin dan seorang ketua penelitian investigasi. “Beberapa penelitian diperlukan untuk mengetahui efek kumulatif dari nikotin dan mekanis molecular tentang bagaimana nikotin bisa menyebabkan efek buruk pada syarat pendengaran di sistem pendengaran.”
“Jika ibu-ibu merokok selama hamil dan anak-anaknya menunjukkan kesulitan dalam belajar di sekolah, mereka harus segera melakukan tes pendengaran,” imbuhnya.

Baca Juga  Penjelasan Mengenai Gangguan Pendengaran

Leave a Reply