5 Mitos Kehilangan Pendengaran

5 Mitos Kehilangan Pendengaran

Meskipun gangguan pendengaran sangat umum, tetapi masih banyak yang tidak dapat memisahkan kenyataan dari mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Berikut ini Mitos yang sering kita dengaar mengenai kehilangan pendengaran.

Mitos: Kehilangan Pendengaran Hanya Dialami Orang Tua

Fakta: Diperkirakan 48 juta orang dengan gangguan pendengaran di AS, dan sekitar dua pertiganya berusia di bawah 65 tahun. Sebuah studi 2010 Journal of American Medical Association yang meneliti kumpulan data komprehensif dari populasi AS menemukan bahwa 1 dari 5 anak usia 12 hingga 19 tahun menunjukkan beberapa tanda gangguan pendengaran di satu atau bahkan di kedua telinga. Organisasi Kesehatan Dunia telah memperingatkan bahwa 1,1 miliar remaja dan dewasa muda berisiko kehilangan pendengaran “karena penggunaan perangkat audio pribadi yang tidak aman, termasuk smartphone, dan paparan tingkat suara yang keras di tempat hiburan yang bising seperti klub malam, bar, dan acara olahraga. ”

Mitos: Kehilangan Pendengaran Tidak Mempengaruhi Kesehatan Saya

Fakta: Gangguan pendengaran yang tidak diobati meningkatkan risiko seseorang mengalami penurunan kognitif, demensia, jatuh, isolasi sosial, dan depresi. Diteorikan bahwa “beban kognitif” di otak dapat mengambil sumber daya yang digunakan otak untuk fungsi lain — seperti memori jangka pendek. Para peneliti telah mengamati bahwa mengatasi gangguan pendengaran, seperti dengan alat bantu dengar, dapat membalikkan atau bahkan mencegah beberapa kondisi ini.

Mitos: Alat Bantu Dengar Bekerja Seperti Kacamata

Fakta: Saat seseorang memakai kacamata, penglihatan langsung bisa diperbaiki menjadi 20/20. Hal ini tidak berlaku untuk pendengaran, karena otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dengan suara yang masuk melalui alat bantu dengar. Karena audiogram setiap orang unik, dengan perbedaan kemampuan mendengar berbagai frekuensi, alat bantu dengar perlu diprogram sesuai kemampuan pendengaran pasien, dan fine-tuning dapat melakukan perjalanan berulang kali ke audiolog atau penyedia layanan kesehatan pendengaran. Bahkan alat bantu dengar yang paling canggih tidak akan memulihkan pendengaran 100 persen, dan mungkin memerlukan pelatihan pendengaran untuk membantu otak memproses suara. Sedangkan untuk penglihatan tidak ada pelatihan untuk memakai kacamata.

Baca Juga  Menggunakan Alat Bantu Dengar

Mitos: Kehilangan Pendengaran Tidak Dapat Dihindari, Terutama Usia Lanjut dan Tidak Dapat Dicegah

Fakta: Gangguan pendengaran memiliki banyak penyebab, termasuk faktor genetik, obat-obatan tertentu, dan paparan suara keras. Merokok dan diabetes juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Seperti kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari, efek kumulatif dari masyarakat yang bising, saat ini telah menyebabkan lebih banyak insiden gangguan pendengaran yang menjadi semakin nyata sepanjang hidup — yaitu, pada orang dewasa yang lebih tua. Paparan kebisingan adalah penyebab gangguan pendengaran yang paling bisa dicegah.

MITOS: Saya Tidak Perlu Alat Bantu Dengar Karena Pendengaran Saya Masih Baik

Fakta: Jika Anda mengalami gangguan pendengaran di beberapa frekuensi dan bukan di frekuensi lain, lebih mudah untuk menganggapnya tidak penting. Bahkan gangguan pendengaran ringan dapat berdampak buruk pada kemampuan kognitif, pekerjaan, rumah, dan kehidupan sosial Anda. Untungnya, neuroplastisitas otak berarti bahwa mengobati gangguan pendengaran memungkinkan otak untuk mempelajari kembali cara mendengar. Penggunaan alat bantu dengar yang tepat berkorelasi dengan peningkatan pandangan, suasana hati, mobilitas, kemandirian, komunikasi, dan interaksi sosial.